Darul Haq

PUASA DAN IKHLAS (I)


Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah atas Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang setia kepadanya.

Pembicaraan malam ini berkisar seputar keutamaan ikhlas dan pengaruh puasa dalam menggapainya.

Sebelum memasuki pembahasan mengenai pengaruh puasa dalam menggapai keikhlasan, maka sebaiknya kita membahas tentang pengertian dan urgensi keikhlasan.

Asal ikhlas dalam bahasa berasal dari kata Khalusha. Sedangkan Khalish adalah hilangnya noda darinya setelah sebelumnya melekat padanya.

Ikhlas, menurut syariat, ialah membersihkan amal dari segala noda yang mengotorinya.

Poros keikhlasan berkisar pada motivasi beramal yang semata hanya untuk melaksanakan perintah Allah dan kehendakNya. Amalnya tidak tercemari oleh kotoran keinginan nafsu, baik mencari pamrih di hati manusia, mencari pujian mereka dan menjauhi celaan mereka, mencari penghormatan mereka, mencari harta, pelayanan, kecintaan dan supaya mereka menyelesaikan hajat-hajatnya, maupun penyakit-penyakit dan kotoran-kotoran lainnya, yang dihimpun oleh ungkapan “meniatkan amal untuk selain Allah”. Inilah poros ikhlas.

Tidak berdosa sesudah itu bagi orang yang menginginkan sesuatu yang lain, seperti sukses meraih kenikmatan akhirat atau selamat dari pedihnya adzab akhirat.

Bahkan tidak menghilangkan keikhlasan, sesudah mencari wajah Allah, apabila terlintas di benak orang yang beramal bahwa amal yang shalih mempunyai berbagai maslahat/manfaat yang sangat baik dalam kehidupan dunia ini, seperti ketentraman jiwa, membebaskannya dari rasa ketakutan, melindunginya dari kehinaan dan kebaikan-kebaikan lainnya yang diperoleh dari amal shalih, serta semakin memacu jiwa untuk melakukan ketaatan-ketaatan.

Ini pengertian ikhlas.

Adapun urgensinya, maka sudah cukup bahwa keikhlasan adalah syarat diterimanya ibadah. Sebab ibadah itu tegak di atas dua syarat: Ikhlas karena Allah dan mengikuti Rasulullah. Allah Z berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعْبُدُواْ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

Nabi z bersabda,

يَقُوْلَ اللهُ تَعَالىَ : أَنَا أَغْنىَ الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ؛ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلاً، فَأَشْرَكَ فِيْهِ غَيْرِيْ – فَأَنَا مِنْهُ بَرِيْءٌ، وَهُوَ لِلَّذِيْ أَشْرَكَ.

“Allah  berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan persekutuan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan lalu ia menyekutukan Aku dengan selainKu dalam amalan itu, maka Aku berlepas darinya dan amalan itu untuk sesuatu yang ia sekutukan.” (HR. Muslim).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berbicara tentang ikhlas, keutamaan dan urgensinya, “Bahkan mengikhlaskan agama (ketaatan) hanya karena Allah adalah agama yang mana Allah tidak menerima selainnya. Inilah agama yang dengannya Dia mengutus para rasul terdahulu dan terakhir, dengannya Dia menurunkan semua kitab dan atas perkara itulah para imam ahli iman bersepakat. Ia adalah inti dakwah para nabi dan ia adalah inti poros Al-Qur’an.”

Ia melanjutkan, “Allah berfirman mengenai Nabi Yusuf l,

كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلْفَحْشَآءَ ۚ إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُخْلَصِينَ

“Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba -hamba kami yang terpilih.” (Yusuf: 24).

Allah akan memalingkan hambaNya dari segala yang menistainya berupa kecenderungan kepada rupa-rupa yang diharamkan dan bergantung kepadanya serta memalingkannya dari kenistaan, berkat keikhlasan karena Allah.

Karena itu, sebelum merasakan nikmatnya beribadah karena Allah dan ikhlas karenanya, seseorang memiliki dorongan yang dikalahkan nafsunya untuk mengikuti hawa nafsunya. Jika ia telah merasakan nikmatnya ikhlas dan hatinya kuat, maka ia kuat dan tidak memerlukan terapi.”

Itulah pengertian ikhlas dan sedikit tentang urgensi dan keutamaannya.

Begitulah. Puasa memang memiliki pengaruh yang besar untuk melatih jiwa pada keikhlasan dan hanya beramal karena Allah b.

Sebab orang yang berpuasa itu melakukan puasa karena iman dan mencari pahala serta meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya karena Allah b. Adakah pelajaran untuk melatih keikhlasan yang lebih besar daripada pelajaran ini?

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah dari Nabiz, beliau bersabda,

 مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan qiyam pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar) karena iman dan mencari pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Ibnu Hajar  berkata, “Pernyataan beliau: Imanan (karena iman), artinya membenarkan janji Allah yang menjanjikan pahala kepadanya. Sedangkan Ihtisaban artinya mencari pahala, bukan karena niatan lainnya, seperti riya’ dan sejenisnya.”

Dalam Al-Bukhari juga dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah  bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ؛ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ، اَلصِّيِامُ لِي وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya! Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi; ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya, serta pahala kebajikan itu dilipatkan 10 kali lipatnya.”

Ibnu Hajar mengatakan, mengenai penjelasan hadits ini, “Pernyataan hadits: ‘Ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku’ demikian redaksinya. Sedangkan dalam Al-Muwaththa’: ‘Ia hanyalah meninggalkan syahwatnya… dan seterusnya” dan tidak ditegaskan penisbatannya kepada Allah, karena telah diketahui dan tidak ada kemusykilan di dalamnya.”

Ibnu Hajar mengatakan, “Bisa juga dipahami dari kalimat Hashr (pembatasan) dalam sabdanya: ‘Ia hanyalah meninggalkan… dst’, sebagai peringatan terhadap apa yang berhak diraih oleh orang yang berpuasa, yaitu keikhlasan yang khusus padanya. Sehingga seandainya ia meninggalkan perkara-perkara tersebut karena tujuan yang lain, seperti untuk pencernaan, maka orang yang berpuasa tidak meraih keutamaan tersebut.”

Demikianlah puasa mendidik kita pada keikhlasan. Sebab puasa adalah ibadah rahasia dan rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa puasa itu tidak dirasuki oleh riya’ dengan sekedar menjalankannya dan hanya dimasuki riya’ dari aspek memberitahukannya.

Berbeda dengan amalan-amalan selainnya, karena riya’ adakalanya masuk dengan sekedar mengerjakannya.

Tidak diragukan lagi bahwa ikhlas adalah sifat paling luhur dan sifat paling terpuji

Kemudian, keikhlasan itu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pribadi secara khusus dan terhadap umat secara umum. Keikhlasan juga memiliki pengaruh yang besar dalam memudahkan segala urusan. Barangsiapa yang berbagai urusannya justru menjadi sebaliknya (menjadi sulit) dan tujuan-tujuannya menjadi sempit, maka ketahuilah bahwa itu adalah musibah karena dosanya dan hukuman karena kurang keikhlasannya.

Ikhlas itulah yang membuat tekad seseorang menjadi kuat dan membulatkan hatinya, sehingga ia terus beramal hingga mencapai tujuannya.

Seandainya bukan karena keikhlasan yang dimasukkan oleh Allah ke dalam jiwa yang bersih, niscaya manusia terhalang untuk mendapatkan kebajikan-kebajikan yang banyak.

Adakalanya seseorang merusakkan sebagian amalannya dan sebagian amalannya yang lain didominasi oleh hawa nafsu, sehingga ia beramal dengan amalan yang kosong dari keikhlasan.

Perkara yang mampu mengangkat seseorang kepada derajat keutamaan dan kemuliaan yang tertinggi hanyalah keikhlasan yang dijadikan oleh manusia sebagai teman perjalanan hidupnya. Ia tidak beramal kecuali berpegang teguh dengan talinya yang kuat.

Tidak berlebihan, apabila anda mengatakan, bahwa jiwa yang telah terbebas dari perbudakan hawa nafsu dan tidak berjalan melainkan selaras dengan yang didiktekan oleh keikhlasannya adalah jiwa yang tentram dengan keimanan, terdidik dengan hikmah Agama dan nesehat-nasehat yang baik.

Ibnu Taimiyah berkata, “Jika seorang hamba ikhlas karena Allah, maka Dia memungutnya, lalu Dia menghidupkan hatinya dan menariknya kepadaNya. Kemudian dijauhkan darinya segala yang bertentangan dengannya dari macam-macam keburukan dan kenistaan.

Berbeda dengan hati yang tidak ikhlas karena Allah, maka ia memiliki tuntutan, kehendak dan cinta secara mutlak. Ia menyenangi segala yang terlintas padanya dan bergantung kepada apa yang diingininya, seperti ranting-ranting pohon yang diterpa angin ke sana ke mari.”

Pembicaraan ini akan dilanjutkan pada malam yang akan datang. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam segala yang kami kerjakan dan kami tinggalkan. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah atas Nabi kita Muhammad z.

Sumber : Pesan-pesan Ramadhan – Muhammad Ibrahim al-Hamd

Kajian Tentang Ramadhan :

Buku-buku Membahas tentang Puasa & Rukun Islam Lainnya:

Telah dilihat 123 pengunjung

Home
Akun
Order
Chat
Cari