Darul Haq

BULAN PUASA ; PENGARUH DAN RAHASIANYA


Segala puji bagi Allah Yang Memberi taufik lagi Memberi pertolongan, kepadaNya kami menyembah dan kepadaNya kami memohon pertolongan, Yang Menepati janjiNya dengan memberi-kan pertolongan kepada hamba-hambaNya yang beriman, Yang menurunkan ketenangan kepada orang-orang yang bersabar dan ikhlas. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah atas RasulNya yang jujur lagi terpercaya, serta atas keluarganya, para sahabatnya semuanya dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam membela agama hingga hari Pembalasan.

Setiap ibadah dalam Islam mempunyai satu atau beberapa hikmah yang sebagiannya tampak dengan nash atau dengan logika yang paling sederhana. Adakalanya sebagiannya tidak terlihat kecuali oleh orang-orang yang merenungkan dan mendalaminya serta orang-orang yang diberi taufik untuk bisa menggalinya.

Inti hikmah dalam peribadatan-peribadatan seluruhnya ada-lah untuk menyucikan jiwa, menyucikannya dari segala keku-rangan, menjernihkannya dari segala kekeruhan dan menyiap-kannya kepada kesempurnaan insani, mendekatkannya kepada tingkatan malaikat, mengurangi naluri (instinc) hewaniah yang menyertainya dari asal penciptaan, dan memberinya “santapan” dengan makna-makna samawiyah yang suci. Sebab Islam meman-dang manusia sebagai makhluk pertengahan yang mempunyai potensi untuk menjadi suci seperti malaikat dan menjadi kotor se-perti hewan, memiliki anatomi yang menggabungkan lumpur bu-mi dan cahaya langit. Ia juga diberi akal, kehendak serta kemam-puan untuk membedakan (yang baik dan yang buruk), agar ia berbahagia di dua kehidupan: dunia dan akhirat, atau celaka di keduanya.

Setiap ibadah dalam Islam yang dilaksanakan dengan cara yang disyariatkan atau dengan maknanya yang hakiki akan ber-pengaruh dalam jiwa, yang pengaruhnya berbeda-beda sesuai perbedaan para hamba (Abidin) dalam hal shidqut tawajjuh (kejujuran niat), konsentrasi hati, dan menghayati hubungan de-ngan Dzat Yang disembah.

Apabila berbagai macam peribadatan itu tidak berpengaruh dalam berbagai aktifitas lahir manusia, maka itu adalah ibadah yang kosong, atau jasad tanpa ruh.

Hati umat Islam menjadi keras dan mereka bermalas-malasan untuk menjalankan kewajiban mereka sehingga mereka menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuh mereka di berbagai bidang, tidak lain karena mereka jauh dari petunjuk agama mereka dan mereka kurang menghayati apa yang mereka ucapkan dan kerjakan ber-ulang-ulang berupa rukun-rukun Islam dan syiar-syiarnya. Akibat-nya, peribadatan-peribadatan tersebut bagi banyak orang hanya sekedar kebiasaan belaka.

Seandainya mereka menghayati apa yang mereka ucapkan dan yang mereka perbuat dengan penghayatan yang benar, nisca-ya wajah bumi ini telah berubah dan muka bumi ini penuh de-ngan indahnya kebenaran, menggantikan buruknya kebatilan.

Begitulah. Puasa memang memiliki hikmah-hikmah yang nyata, rahasia-rahasia yang indah, dan berbagai pengaruh yang sangat besar terhadap pribadi dan masyarakat.

Sudah cukup untuk menganjurkan berpuasa dan mengajak kepadanya, bila dikatakan kepada seorang muslim, “Sesung-guhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk berpuasa.” Tanpa menyebutkan manfaat-manfaat puasa, pengaruh-pengaruh, hik-mah-hikmah dan rahasia-rahasianya. Karena puasa adalah syariat Rabbani Ilahi, yang berasal dari Rabb sebagai konsekwensi Rubu-biyah dan Ilahiyah-Nya. Allah berhak membebankan kepada hamba-hambaNya apa yang dikehendakiNya dan mereka wajib mentaati perintahNya serta menjauhi laranganNya.

Tetapi kebutuhanlah yang mendorong untuk menjelaskan sebagian rahasia, hikmah, faidah dan pengaruh yang dihasilkan bulan puasa. Allah memberitahukan kepada kita dalam banyak ayat dari KitabNya tentang rahasia-rahasia syariatNya dan faidah-faidahnya, untuk mengasah akal agar berpikir dan beramal serta memahami bahwa syariat Ilahi yang abadi ini tidaklah ditetapkan melainkan untuk merealisasikan kemaslahatan bagi manusia atau menghilangkan kemudharatan dari mereka, dan agar sambutan jiwa terhadap agama ini semakin menguat.

Perhatikan firman Allah q, ketika mengajarkan kepada kita adab meminta izin untuk memasuki rumah, bagaimana Dia me-nutup hal itu dengan firmanNya, “Itu lebih suci bagimu.”

Bahkan ketika memerintahkan kepada kita supaya berpuasa, Allah q menyebutkan hikmah dan manfaatnya yang dihimpun dengan satu kata dari firmannya yang merupakan mukjizat. Dia berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa se-bagaimana telah diwajibkan atas orang-orang (umat) sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa adalah inti hikmah dari disyariatkannya berpuasa.

Bahkan, perhatikan sabda Rasulullah a tentang adab ber-puasa,

إِنَّمَا الصَّوْمُ جُنَّةٌ – أَيْ وِقَايَةٌ – فإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ،  وَلاَيَصْخَب، وَلاَ يَجْهَلْ.

“Puasa adalah perisai; maka jika pada hari salah seorang kalian se-dang berpuasa, janganlah ia berkata keji, jangan berbuat keributan, dan jangan pula berbuat bodoh.” (Muttafaq `Alaih).

Beliau terlebih dahulu mengemukakan hikmah berpuasa, kemudian menerangkan adab-adabnya, agar lebih menyentuh da-lam jiwa dan lebih mendalam pengaruhnya.

Selama Islam tidak mengingkari akal, tidak berbicara kepada manusia kecuali dengan apa yang selaras dengan pikiran yang sehat, dan tidak memerintahkan suatu syariat pun melainkan apa-bila kemaslahatannya meliputi amal tersebut, maka wajarlah apabila kita memperhatikan rahasia-rahasia Syari’at dan menjelas-kan faidah-faidahnya.

Manusia di setiap masa senantiasa memperhatikan faidah-faidah Syari’at yang selaras dengan pimikiran dan kemaslahatan mereka.

Ini menunjukkan bahwa di balik Syari’at ini ada Tuhan Yang Maha Bijaksana, yang memperindah segala ciptaanNya kemudian memberinya petunjuk.

Jika Allah memberikan taufik —seperti dalam pembicaraan ini— supaya dada orang-orang yang beriman terbuka untuk me-ngerjakan kewajiban puasa, dan mereka diberi keterangan tentang sesuatu dari hikmah-hikmah berpuasa, rahasia-rahasianya dan pe-ngaruhnya, maka itu menjadi faktor terbesar untuk mengerjakan puasa menurut cara yang lebih sempurna.

Puasa berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Karena puasa mampu menahan naluri dari memperturutkan hawa nafsu yang merupakan akar bencana yang menimpa ruh dan badan, serta me-mutuskan induk anggota tubuh dari pokok kesenangan.

Tidak ada pendidik manusia seperti halnya menahan gejo-laknya naluri dalam dirinya dan membatasi kekuasaan hawa naf-su padanya.

Bahkan itu pada hakikatnya adalah kemenangan baginya da-lam menghadapi faktor-faktor yang memperdayakan dirinya dan menjauhkannya dari kesempurnaan.

Sebagaimana halnya dalam pendidikan seorang anak kecil yag sewaktu-waktu harus ditindak tegas dan diberi sanksi dengan larangan pada hal-hal yang disenanginya, maka sudah seharusnya pula dalam pendidikan agama bagi orang-orang dewasa agar mereka ditindak dengan tegas, baik dalam waktu-waktu yang berdekatan, seperti waktu-waktu shalat.

وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

“Dan sesungguhnya itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu`.”  (Al-Baqarah: 45).

Atau berjauhan, seperti bulan Ramadhan. Karena bulan ini ti-dak datang kecuali setelah 11 bulan yang seluruhnya telah dilam-piaskan dalam syahwat, larut di dalamnya, dan mengikuti ajakan-nya.

Sebulan sesudah 11 bulan adalah sebentar. Sebab satu bagian dari 12 bagian dalam hukum perbandingan kuantitas adalah sedi-kit.

Tetapi itu adalah kemudahan Islam yang tiada kemudahan sesudahnya, dan kemurahan Islam yang tiada kemurahan sesu-dahnya.

Puasa membuat perut lapar tapi membuat ruh kenyang, me-lemahkan badan tapi menguatkan hati, menurunkan kelezatan ta-pi menaikkan jiwa.

Dalam ibadah puasa, seorang mukmin menemukan kesem-patan untuk bermunajat kepada Tuhannya, berkomunikasi de-nganNya, datang kepadaNya, senang mengingatNya dan memba-ca KitabNya.

Ini sebagian rahasia dan pengaruh berpuasa, serta inilah yang dipahami oleh As-Salafus Shalih tentang makna puasa. Dengan itulah mereka menjadi “mukjizat Islam” dalam hal keteguhan di atas kebenaran, mengajak kepadanya dan berakhlak dengannya. Sehingga manusia tidak pernah melihat orang yang menyamai ketinggian jiwa mereka, kemuliaan tujuan mereka, ketinggian cita-cita mereka, kecemerlangan jiwa mereka, kelurusan hati mereka dan keluhuran akhlak mereka.

Bukankah manusia pada hari ini sangat membutuhkan semisal generasi ini atau yang mendekatinya? Bahkan bukankah masyarakat muslim sangat membutuhkan kepada jiwa-jiwa seper-ti itu?

Tentu, tentu, dan tentu saja.

Ya Allah, limpahkan kepada kami dari kemurahanMu dan ja-nganlah Engkau halangi kami untuk mendapatkan keberkahan bulan yang mulia ini. Berikanlah kepada kami keuntungan yang melimpah darinya dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang berpuasa dan beribadah di dalamnya karena iman dan mencari pahala.

 Semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi kami Muhammad z

Sumber : Pesan-Pesan Ramadhan – Muhammad Ibrahim Al-Hamd

Kajian Tentang Sabar & Syukur :

Telah dilihat 163 pengunjung

Home
Akun
Order
Chat
Cari