Darul Haq

BARANGSIAPA YANG TIDAK MENINGGALKAN UCAPAN DUSTA


Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah atas Rasulullah.

Termaktub dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah, ia menuturkan, “Rasulullah bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ  فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minumnya’.”

Ibnu Hajar X mengatakan, “Ibnu Baththal berkata, ‘Maknanya bukan berarti diperintahkan untuk meninggalkan puasanya. Tetapi maknanya ialah menyuruh berhati-hati terhadap perkataan dusta dan perbuatan lainnya disebutkan bersamanya’.”

Ibnu Abdil Barr berkata, “Ini adalah kinayah (kata kiasan) tentang tidak diterimanya puasa mereka, seperti kata orang yang kesal kepada orang yang menolak memberikan sesuatu yang dimintanya, ‘Aku tidak membutuhkan demikian.’ Jadi, yang dimaksudkan ialah menolak puasa yang tercampur dengan kata-kata dusta dan menerima puasa yang bersih dari kata-kata dusta.

Mirip dengan hal ini ialah firman Allah,

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ

“Daging-daging unta dan darahnya (Qurban) itu sekali-kali tidak sampai kepada Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang sampai kepadaNya.” (Al-Hajj: 37).

Karena maknanya: Ia tidak mendapatkan ridhaNya, yang karenanya  suatu amalan bisa diterima.”

Ibnul Arabi berkata, “Pengertian hadits ini bahwa siapa yang melakukan perbuatan tersebut, maka puasanya tidak berpahala.”

Maksudnya, pahala puasa yang dikerjakannya tidak sebanding dengan dosa kata-kata dusta dan yang disebutkan bersamanya.

Al-Baidhawi berkata, “Tujuan disyariatkannya berpuasa bukan sekedar lapar dan dahaga, tetapi diikuti juga dengan mematahkan syahwat dan menundukkan nafsu ammarah kepada nafsu yang muthma’innah. Jika ia tidak berhasil demikian, maka Allah tidak memandangnya dengan pandangan penerimaan.” Selesai ucapannya.

Telah diterangkan tentang maknanya, pernyatan para ulama mengenainya, serta dijelaskan pula bahwa Az-Zur adalah kata-kata dusta dan bahwa itu perbuatan buruk di semua waktu. Lebih buruk lagi apabila dilakukan saat berpuasa.

Pelajaran yang bisa dipetik dari pembicaraan ini ialah tercelanya dusta dan mendidik muslim supaya menjauhinya. Sebab dusta adalah salah satu sifat orang munafik dan salah satu cabang kekafiran. Dusta juga menunjukkan kehinaan jiwa dan jauhnya jiwa dari kemuliaan yang terpuji.

Nabi z bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ؛ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً.

“Janganlah kamu berdusta; sebab dusta akan menuntun kepada dosa dan dosa akan menuntun ke neraka. Sesungguhnya seseorang ber-dusta hingga Allah mencatat di sisiNya sebagai pendusta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Al-Hasan berkata, “Dusta adalah inti kemunafikan.”

Umar bin Abdul Aziz berkata kepada sebagian bawahannya, “Janganlah kamu meminta pertolongan kepada orang yang suka berdusta. Karena jika kamu mentaati orang yang suka berdusta, kamu akan binasa.”

Dikatakan, “Seorang pendusta tidak mungkin mempunyai adab yang baik, dan orang yang mudah bosan tidak mungkin jadi pemimpin.

Demikianlah, dan pembicaraan ini masih ada kelanjutannya. Semoga shalawat dan salam terlimpah atas Nabi kita Muhammad.

BEBERAPA BENTUK KEDUSTAAN DAN PENDORONGNYA

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah atas Rasulullah.

Pembicaraan di sini akan berkisar tentang beberapa bentuk kedustaan, untuk menyempurnakan pembicaraan sebelumnya dan mengingatkan supaya waspada terhadap bentuk-bentuk kedustaan itu. Di antaranya, berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, berdusta dalam jual beli, berdusta untuk bermegah-megahan dan menunjukkan kelebihan, berdusta kepada orang-orang yang menyelisihinya untuk mengalahkan mereka dan membinasakan mereka, berdusta yang disertai dengan kedengkian, berdusta dalam berbantah-bantahan, berdusta agar bebas dari situasi yang sulit, dan berdusta untuk menarik belas kasih.

Termasuk bentuk kedustaan, berlebih-lebihan dalam ucapan, menukil berita-berita bohong, memperlebar (persoalan dari yang sebenarnya) untuk kemaslahatan, berlebih-lebihan dalam ta`ridh (mengatakan sesuatu, tapi yang dimaksud adalah selainnya) dan berdusta kepada anak-anak.

Adapun motivasi-motivasi berdusta sangat banyak, antara lain: takut kritik dan sanksi, keinginan mendapatkan kemaslahatan yang segera, kurang merasa mendapat pengawasan Allah, dan tidak peduli terhadap sanksi-sanksi Allah.

Termasuk juga kebiasaan berdusta dan pendidikan yang buruk.

Wahai orang-orang yang berpuasa! Inilah kedustaan dan itulah bentuk-bentuknya serta motivasi-motivasinya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menjauhinya sehingga kita meraih ridha Allah dan selamat dari berbagai sanksi dusta.

Bulan yang mulia ini adalah peluang emas dan faktor terbesar yang membantu mewujudkan hal itu.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minumnya.”

Semoga shalawat dan salam terlimpah atas Nabi kita Muhammad z.

Kajian Seputar Ramadhan

Buku-buku Yang Patut Dijadikan Perpustakaan Keluarga:

Telah dilihat 173 pengunjung

Home
Akun
Order
Chat
Cari