Darul Haq

RESENSI BUKU PENJELASAN TUNTAS TENTANG SABAR & SYUKUR

Pemesanan, Klik : Buku Sabar dan Syukur

Kitab asli buku ini berjudul Mukhtashar Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin yang diintisarikan dari kitab Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus, karya Imam Ibnul Qayyim

Bersabar adalah suatu yang sangat ditekankan dalam islam, sabar yang dimaksud di sini adalah sabar dalam segala hal, hingga Allah Ta’ala menyebutkan kata “sabar” di dalam al-Qur`an pada 90 tempat, begitu juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam banyak hadits, serta perkataan as-Salaf ash-Shalih. Begitu pentingnya sikap sabar ini, hingga Imam Ibnul Qayyim , penulis kitab asli dari buku ini, meletakkan satu judul tersendiri: “Manusia tidak mungkin tidak membutuhkan sabar dalam suatu keadaan apapun”. Bahkan Imam Ibnul Qayyim juga meletakkan satu judul tersendiri lainnya: “Sabar itu adalah setengah dari Iman”.

Uraian mengenai sabar ini kemudian mengerucut kepada satu tititk yaitu: orang miskin yang bersabar adalah yang utama dan patut diteladani.

Begitu juga tentang syukur, buku ini menjelaskannya dari berbagai segi, sehingga benar-benar sajian yang akan menghujam dalam sanubari setiap orang yang merenunginya. Dan ini juga mengerucut pada satu titik, yaitu: orang kaya yang bersyukur adalah yang utama dan layak menjadi panutan.

Begitu hebat dan tinggi kedudukan sabar dan syukur hingga muncul pertanyaan: Siapa yang lebih utama, orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar?

Pendapat pertama berkata: Orang yang bersabar lebih utama

Sementara pendapat kedua berkata: Orang yang bersyukur lebih utama

Dan Pendapat ketiga berkata: Keduanya sama, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar bin al-Khaththab , “Kalau seandainya sabar dan syukur itu adalah dua ekor unta tunggangan, aku tidak perduli mana di antara keduanya yang aku kendarai.”

Berikut sedikit perbandingan di antara keduanya, secara ringkas:

Orang-orang yang berpendapat bahwa sabar lebih utama, berkata:

(1). Allah memuji sikap sabar dan pelakunya, juga memerintahkan kita untuk senantiasa bersabar, bahkan Allah menggantungkan kebaikan dunia dan akhirat kepada sikap sabar. Lebih dari itu, Allah Ta’ala menyebutkan tentang sabar pada tidak kurang dari 90 tempat dalam kitab suciNya. Dan cukuplah sebagai dasar lebih utamanya sabar, sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

“Orang yang memberikan makan yang bersyukur, adalah setara dengan kedudukan orang berpuasa yang bersabar.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan lainnya).

(2). Jika kita bandingkan antara dalil-dalil tentang sabar dengan dalil-dalil tentang syukur, maka kita akan mendapatkan bahwa dalil-dalil tentang sabar jauh lebih banyak dibandingkan dengan syukur.

(3). Sabar masuk dalam semua masalah agama, dan karena itu sabar seperti kedudukan kepala bagi badan.

(4). Allah hanya menjanjikan tambahan balasan terkait syukur, yaitu dalam FirmanNya, “Jika kalian bersyukur, niscaya aku tambahkan bagi kalian.” (Ibrahim: 7), sedangkan sabar Allah janjikan balasan tanpa hisab, yaitu dalam FirmanNya, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar dilimpahkan pahalanya tanpa hisab.” (Az-Zumar: 10).

(5). Allah hanya menyebutkan balasan untuk orang-orang yang bersyukur secara umum dalam FirmanNya, “Dan Allah akan memberikan balasan bagi orang-orang yang bersykur.” (Ali Imran: 144). Sedakan balasan bagi orang-orang yang bersabar Allah sebutkan secara khusus (definitif) yaitu dalam FirmanNya, Dan Kami benar-benar akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl: 96).

(6). Terdapat riwayat shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Semua amal anak cucu Adam adalah baginya, kecuali Puasa maka ia adalah bagiKu dan Aku-lah Yang akan memberikanbalasan baginya’.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim). Dan itu tidak lain karena sikap sabar yang terkandung di dalam Puasa.

(7). Cukuplah sebagai ungkapan lebih utamanya sabar dibanding syukur, Firman Allah Ta’ala, Sesungguhnya pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; bahwasanya mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (Al-Mu`minun: 111), di mana Allah menetapkan kemenangan mereka (di Hari Kiamat) adalah karena kesabaran mereka.

(8). Dalil-dalil juga menunjukkan bahwa bersikap zuhud terhadap dunia, adalah lebih utama dari pada memperbanyak harta benda; dan sikap zuhud terhadap dunia adalah sikap orang yang bersabar sementara memperbanyak harta adalah sikap orang yang bersyukur.

(9). Dan lain sebagainya.

Sementara orang-orang yang berkata bahwa syukur lebih utama, berkata:

[1]. Syukur lebih utama karena Allah Ta’ala menyandingkannya dengan tujuan yang menjadi maksud makhluk diciptakan. Allah Ta’ala berfirman, Maka ingatlah kalian kepadaKu, niscaya Aku pun akan ingat kepada kalian. Ber­syu­kurlah kepadaKu, dan janganlah kalian ingkar kepadaKu.” (Al-Baqarah: 152).

[2]. Allah Ta’ala juga menyandingkan syukur dengan Iman. Allah Ta’ala berfirman, Allah tidak akan menyiksa kalian, ji­ka kalian bersyukur dan beriman.” (An-Nisa`: 147).

[3]. Allah q juga mengabarkan bahwa orang-orang yang bersyukur  adalah orang-orang yang diistimewakan dengan karunianya di antara hamba-hamba Nya, Allah Ta’ala berfirman, Demikianlah, Kami telah menguji se­bagian mereka (orang yang kaya) de­­ngan sebagian yang lain (orang yang miskin), agar mereka (orang yang kaya itu) berkata, ‘Orang-orang sema­­­­­­­­­cam inikah yang diberi anugerah oleh Allah di antara kita?’ (Allah ber­­­­­­­­­­­firman), ‘Tidakkah Allah lebih menge­­­­­­tahui tentang mereka yang bersyukur (kepadaNya)?’.” (Al-An’am: 53).

[4]. Allah juga membagi manusia menjadi dua golongan: yang bersyukur dan yang kufur. Allah Ta’ala berfirman, Sesungguh Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; (agar) menjadi yang bersyukur atau menjadi yang kafir.” (Al-Insan: 3). Dan yang semakna dengan ini banyak dalam al-Qur`an di mana Allah Ta’ala melawankan syukur dengan kufur.

[5]. Allah Ta’ala juga menyatakan bahwa hamba-hambaNya yang bersyukur itu, adalah sedikit. Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (Saba`: 13).

[6]. Allah Ta’ala memuji rasul pertama yang Dia utus ke bumi karena sikap syukurnya. Allah berfirman, (Wahai) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh (dalam perahu), sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Ku) yang banyak bersyukur.” (Al-Isra`: 3).

[7]. Allah juga mengabarkan bahwa keridhaanNya dalam sikap bersyukurnya hamba kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian bersyukur, Dia meridhainya bagi kalian.” (Az-Zumar: 7).

[8]. Allah juga memuji khalilNya, Nabi Ibrahim j karena sikap beliau yang mensyukuri nikmat-nikmatNya. Allah berfirman, Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (yang dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus), dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah), dia juga seorang yang mensyukuri nikmat-nikmatNya; Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus..” (An-Nahl: 120-121).

[9]. Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa bersyukurnya hamba adalah merupakan tujuan paling tinggi dari penciptaan dan penetapan agamaNya. Allah berfirman, Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati, agar kalian bersyukur.” (An-Nahl: 78).

[10]. Yang mengatakan bahwa bersyukur lebih utama, berhujah dengan mengatakan bahwa bersyukur dikehendaki secara tersendiri (tujuan utama) sedangkan sabar dimaksudkan untuk selainnya.

[11]. Dan masih ada hujjah-hujjah yang lainnya.

Dan karena begitu kuat dan jelas hujjah-hujjah dari masing-masing pihak, setelah Imam Ibnul Qayyim menyebutkan hujjah-hujjah tersebut, beliau berkata, yang secara ringkas sebagai berikut:

Berdasarkan tahqiq (penelitian seksama), yang lebih utama di antara keduanya adalah yang lebih bertakwa kepada Allah Ta’ala. Seandainya kedua-duanya sama dalam hal ketakwaan, maka keduanya sama dalam hal keutamaan. Itulah sebabnya Allah tidak mengutamaan seseorang karena kefakiran dan kekayaan, akan tetapi dengan takwa,

{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ}.

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (Al-Hujurat: 13).

Dan takwa itu memang dibangun di atas dua pokok ini, sabar dan syukur. Karena itu,  siapa yang sabar dan syukurnya lebih sempurna, pastilah ia lebih utama.

PENUTUP

Buku ini benar-benar sajian tentang dua kewajiban pokok setiap Muslim, yaitu “Sabar’ dan “Syukur”. Ketika seseorang membaca tentang “sabar” dengan semua rinciannya dalam buku ini, maka akan terbersit dalam hatinya bahwa sabar harus menjadi pilihan utama dalam sikap hidupnya. Dan begitu pula ketika dia membaca tentang syukur. Bila seseorang merenungi tentang keutamaan orang fakir yang sabar, maka dia akan bertekad dalam dirinya untuk mewujudkannya, dan ketika dia membaca keutamaan-keutamaan orang kaya yang bersyukur, maka diapun akan bertekad untuk memperbaiki cara pandangnya terhadap harta benda.

Kedua sikap ini adalah dua sikap inti; karena sabar dan syukur memang dua sikap yang diwajibkan Allah atas setiap hambaNya; dan keduanya merupakan asas bagi ketakwaan seseorang.

Karena itu,  silahkan Anda mengkaji dua masalah ini secara mendalam dalam buku ini, insya` Allah akan mendatangkan berbagai kebaikan untuk meraih ketakwaan.

Informasi dan Pemesanan: Klik : Buku Sabar dan Syukur atau

SMS/WA. 0813 8236 1477

(hanya pada hari dan jam kerja)

Telah dilihat 184 pengunjung

Home
Akun
Order
Chat
Cari