Darul Haq

SYARAT-SYARAT TERKABULNYA DO’A DAN HAL-HAL YANG MENGHALANGINYA


Dari Buku Kumpulan Do’a Mustajab & Dzikir Pilihan dan Buku Kumpulan Do’a & Dzikir Pilihan


Doa dan ta’awudz (mohon perlindungan) ibarat senjata. Kehebatan senjata bergantung kepada pemakainya, bukan hanya dari ketajamannya saja. Apabila senjata telah sempurna tidak ada cacatnya, lengan yang menggunakannya kuat, dan penghalang tidak ada, niscaya dapat membinasakan musuh. Apabila kurang salah satu dari tiga perkara ini, maka pengaruhnya menjadi berkurang. Demikian pula dengan doa, apabila isi doa tidak baik, atau orang yang berdoa tidak menggabungkan antara hati dan lisannya, atau adanya penghalang bagi terkabulnya doa, maka doa tidak akan berhasil.[1]

Syarat-Syarat Terkabulnya Doa

(1). Ikhlas

(2). Mengikuti Rasulullah z (di Dalam Tata Cara Berdoa)

(3). Percaya dan Yakin akan Dikabulkan Allah[2]

Abu Hurairah I meriwayatkan bahwa Nabi z bersabda,

اُدْعُوا اللّٰهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالْإِجَابَةِ …

“Berdoalah kepada Allah, sedang kalian yakin akan terkabul…”[3]

Beliau z juga bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيْعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللّٰهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ….

“Tidaklah seorang Muslim berdoa memohon sesuatu kepada Allah, sedang dalam doanya itu tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa, atau memutuskan tali silaturahim, melainkan Allah memberikannya salah satu dari tiga perkara….”[4]

(4). Menghadirkan hati sewaktu berdoa dan khusyu’, penuh keinginan akan ganjaran pahala dari Allah dan disertai rasa takut kepada azabNya

(5). Adanya keinginan yang kuat, tekad, dan kesungguhan dalam berdoa

Dari Anas I, beliau berkata, Rasulullah z bersabda,

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ فِي الدُّعَاءِ، وَلَا يَقُلْ: اَللّٰهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ، فَإِنَّ اللّٰهَ لَا مُسْتَكْرِهَ لَهُ.

Apabila salah seorang dari kalian berdoa, maka hendaklah ia memiliki keinginan yang kuat dalam berdoa, janganlah ia berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau kehendaki, berikanlah kepadaku,’ sesungguhnya Allah tidak ada yang dapat menuntut paksa terhadapNya.”[5]

Penghalang-Penghalang Terkabulnya Doa

(1). Leluasa (Bersenang-senang) dengan yang haram, baik makan, minum, dan berpakaian, serta konsumsi (pada umum-nya).[6]

(2).Tergesa-gesa dan Meninggalkan Doa

Abu Hurairah I meriwayatkan bahwa Rasulullah z bersabda,

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُوْلُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ.

“Doa seseorang di antara kamu dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, lalu dia berkata, ‘Saya telah berdoa tapi tidak dikabulkan’.”[7]

(3). Melakukan Maksiat dan Perbuatan Haram

(4). Meninggalkan Kewajiban yang Diwajibkan Oleh Allah

Hudzaifah y meriwayatkan bahwa Nabi z bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللّٰهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ.

Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, hendaklah kamu benar-benar beramar ma’ruf dan nahi mungkar atau (kalau tidak), Allah akan menimpakan azab karenanya, kemudian kamu berdoa kepadaNya, lalu Allah tidak mengabulkan bagi kalian.”[8]

(5). Berdoa dengan Doa yang Mengandung Dosa Atau Pemutusan Hubungan Silaturahim

(6). Sebagai Hikmah Allah, di Mana Seseorang Diberikan yang Lebih Baik dari yang Diminta

Abu Sa’id y meriwayatkan dari Nabi z, beliau bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللّٰهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ؛ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا، قَالُوْا: إِذًا نُكْثِرُ، قَالَ: اَللّٰهُ أَكْثَرُ.

“Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan suatu permohonan yang di dalamnya tidak mengandung dosa dan tidak pula pemutusan silaturahim, kecuali pastilah permohonan itu dikabulkan Allah dengan memberikan salah satu dari tiga perkara: Bisa jadi permohonannya disegerakan oleh Allah, atau Allah menyimpannya untuknya di akhirat atau dipalingkan darinya keburukan sebanding dengan permohonannya tersebut.” Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa,” Rasulullah menjawab, “Allah (tetap) lebih banyak (karuniaNya).”[9]

Terkadang manusia menyangka bahwa doanya tidak dikabulkan, padahal telah dikabulkan lebih banyak dari yang diminta atau dipalingkan darinya musibah, bencana, penyakit yang lebih baik dari yang diminta atau ditangguhkan untuknya sampai Hari Kiamat.[10]

[1] Al-Jawab al-Kafi liman Sa`ala an ad-Dawa` asy-Syafi, Ibnul Qayyim, Dar al-Kitab al-Arabi, cet. I, th. 1407 H, hal. 36.

[2] Lihat Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 2/407; Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, disusun oleh ath-Thayyar, 1/258.

[3] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, 5/517; dihasankan al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 594, dalam Shahih at-Tirmidzi, no. 2766; Ahmad, 2/177; al-Hakim, 1/493.

[4] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, 3/18; at-Tirmidzi dari Jabir bin Abdullah, no. 3381, dari Ubadah bin ash-Shamit, no. 3573; keduanya dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi, 2/140, 181.

[5] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6338; dan Muslim, no. 2678.

[6]     Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 1/277.

[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6340; Muslim, no. 2735.

[8] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, 4/468 dan beliau menghasankannya no. 2169; al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah, 14/345; Ahmad, 5/388; lihat Shahih al-Jami’, 6/97, no. 6947, dan dalam masalah ini diriwayatkan pula dari Aisyah  dan beliau memarfu’kannya,

إِنَّ اللّٰهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُوْلُ لَكُمْ: مُرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ قَبْلَ أَنْ تَدْعُوْنِيْ فَلَا أَسْتَجِيْبُ لَكُمْ، وَتَسْأَلُوْنِيْ فَلَا أُعْطِيْكُمْ، وَتَسْتَنْصُرُوْنِيْ فَلَا أَنْصُرُكُمْ.

“Sesungguhnya Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman kepada kalian, ‘Perintahkan kepada kebaikan dan cegahlah dari kemungkaran sebelum kalian berdoa kepadaKu lalu tidak Aku kabulkan, dan kalian memohon kepadaKu lalu tidak Aku beri, dan kalian meminta tolong kepadaKu lalu tidak Aku tolong’.” (Ahmad, 6/159; dan lihat al-Majma’, 7/266).

[9]     Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, 3/18, dan telah ditakhrij sebelumnya.

[10]     Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 1/258-268 disusun oleh ath-Thayyar.

Telah dilihat 247 pengunjung

Home
Akun
Order
Chat
Cari